ADA APA DENGAN UN?
“Nduk,.......Ujian Nasional itu bukan monster. Hadapi saja
seperti biasanya. Dari awal kamu sekolah dulu sudah berkali-kali kamu
menghadapi ujian yang dilaksanakan secara berkala. Ada ujian harian, ujian
tengah semester, dan ujian semester. Artinya sistem telah disusun dan
diperhitung sedemikan rupa agar kamu terlatih dan siap dengan Ujian Nasional.
Bedanya adalah pesertanya adalah seluruh siswa di segenap penjuru nusantara
ini. “ Ini adalah kalimat yang terlahir dari mulutku takkala jadi bingung
melihat teman-temannya kompak “galau berjamaah” saat Ujian Nasional semakin di
depan mata.
Masih
segar dalam ingatan kita berita tertangkapnya lima mahasiswa di Alun-alun
Yogyakarta oleh anggota Polrestabes Surabaya. Mereka adalah anggota jaringan
Joki Gosok dan Joki Ganas , sindikat penjual kunci jawaban Ujian Nasional ( UN
) 2014 tingkat SMU/SMK/MA yang terbongkar setelah siswa SMU Negeri 12 Surabaya
tertangkap tangan sedang menggandakan kunci jawaban UN.Tetapi ini ternyata
bukan yang terakhir. Tiga orang siswa SMP di Kediri juga dikabarkan ditangkap
lantaran menggandakan kunci jawaban UN SMP/ MTs 2014. Mereka mengaku membeli
bocoran kunci jawaban seharga Rp. 250.000,00.
Kesan
bahwa UN itu sesuatu yang menakutkan ternyata ditangkap sebagai “momentum yang
tepat” untuk berbisnis. Atau bisa jadi kesan menakutkan itu sengaja diciptakan
agar melahirkan momentum bisnis. Tentu sah sah saja dilakukan selama hal itu tidak melanggar regulasi yang berlaku.
Tetapi kita semua sepakat bahwa membocorkan rahasia negara adalah salah satu bentuk
tindak kriminal.
Bisnis
legal yang pas dengan momentum ini adalah jasa bimbingan belajar, yang
belakangan ini kian menjamur di berbagai penjuru negeri, dari puncak gunung
hingga pesisir pantai. Dari tarif yang murah meriah, Rp 2.000,00/ kehadiran
hingga yang jutaan rupiah/paket. Walaupun kalau kita telaah secara seksama
prospek bisnis ini kurang menjanjikan andaikata materi , sistem dan proses
pendidikan di sekolah mampu mengantarkan siswa pada gerbang “siap” menghadapi UN.
Bukti ketidaksiapan siswa dalam menghadapi prosesi 3 atau 6 tahunan ini adalah
kasus perburuan kunci jawaban di atas, menyiapan contekan hingga melakukan
hal-hal irrasional seperti pergi ke tempat-tempat yang dianggap keramat atau
pun minta bantuan dukun. Ironis sekali.
Tanpa
disadari kegiatan yang dilakukan pihak sekolah untuk menghadapi UN terkadang
justru menambah tensi stres peserta didik. Misalnya saja Istighosah yang diadakan
dan dilaksanakan hanya beberapa hari menjelang UN dimulai. Bahkan tak jarang
sekolah mewajibkan peserta UN untuk meminta maaf kepada seluruh adik kelasnya,
mohon do’a restu kepada semua mantan gurunya dulu waktu masih menuntut ilmu di
level pendidikan yang lebih bawah( SD dan SMP). Akan jauh lebih baik dan
efisien andaikata hal itu dilaksanakan tidak terlalu mepet waktunya dengan
pelaksanaan UN. Idealnya semua peserta UN dalam kondisi yang fresh secara fisik dan mental dalam menghadapi
UN.


Komentar
Posting Komentar