PANAROID TEKNOLOGI



Di era digital ini teknologi berkembang sangat pesat. Beberapa produk teknologi pun diproduksi secara masal. Alhasil harganya menjadi sangat murah. Misalnya telepon genggam alias handphone (HP). Sayangnya gaya hidup masyarakat yang konsumtif tidak dibarengi pengetahuan dan penguasaan teknologi yang memadai. Akibatnya nilai negatif kehadiran teknologi dijadikan alasan dasar penolakan kehadiran teknologi atau pun produknya. Sementara sisi positifnya tidak pernah dipertimbangkan.
Belakangan ini yang sedang marak adalah pelarangan membawa HP ke sekolah. Sepintas hal ini terlihat bijaksana. Tetapi kenyataannya banyak siswa yang tetap membawa HP secara sembunyi-sembunyi ke sekolah. Razia yang dilakukan pihak sekolah tak membuat siswa jemu. Kalau pun tertangkap pasti akan diberikan kembali setelah menandatangani surat pernyataan atau orang tua datang datang memenuhi panggilan pihak sekolah.
Biasanya pihak sekolah lebih sering (suka) melakukan komunikasi satu arah dengan menyampaikan bahwa membawa HP ke sekolah adalah pelanggaran dan alasan apapun yang akan dikemukakan tidak akan diterima. Beginikah wajah dunia pendidikan kita? Bukankah cara seperti ini cenderung melahirkan generasi yang instruksional yang tak punya keberanian berinisiatif? 
Orang tua manapun pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang patuh, bukan tipe pemberontak. Namun pertimbangan dan kondisi tertentu terkadang memaksa orang tua mendorong anaknya berlaku indisipliner dengan melanggar aturan sekolah. Misalnya sang anak wajib mengikuti kegiatan yang diadakan sekolah sehingga harus pulang di luar waktu reguler. Sementara jarak sekolah dengan rumah cukup jauh. Pada waktu sang anak pulang angkutan umum telah selesai beroperasi. Memang keadaan ini tidak berlaku di kota- kota besar. Tetapi yang harus kita ingat adalah Indonesia ini luas, dan tidak semuanya kota besar yang memiliki fasilitas angkutan umum yang beroperasi hingga larut malam. Dalam kasus seperti ini jika telepon sekolah sudah tidak dapat digunakan lantaran ruangannya sudah terkunci maka HP adalah jembatan termurah untuk menghubungkan sang anak dengan orang tuanya. Terlebih di kala musin penghujan.
Dapat dimengerti ketika pihak sekolah maupun instansi terkait memberlakukan pelarangan membawa telepon genggam ke sekolah karena merasa was-was dengan maraknya kasus video mesum ataupun tindak asusila lain yang melibatkan pelajar sebagai pelaku utamanya. Apalagi saat razia dilakukan banyak sekali file pornografi yang tersimpan dalam memory card milik siswa yang terjaring operasi. Mulai foto-foto bugil artis hingga video porno dengan siswa sebagai pelakunya maupun hasil konversi film dewasa menjadi format mp4 yang bisa diputar denam mp4 player di HP.
Jika memang penyebab dilarangnya HP masuk ke sekolah karena video porno, lalu dari manakah mereka mendapatkan video tersebut? Yang paling banyak adalah dari internet. Saat tulisan ini sedang diketik (17/07/2012), saya mencoba mencari data via Google Adwords dan Google Insight sejenak dengan istilah penelusuran atau keyword "video mesum". Dan hasilnya cukup mencengangkan. Selama bulan Juni 2012 Google mencatat ada 60.500 pencarian. Sementara dengan istilah penelusuran "videomesum" (tanpa spasi) mencapai 1.300 penelusuran. Lokasi penelusuran terbanyak di DI Yogyakarta, disusul Jawa Tengah dan Sumatera Selatan, Jawa Barat, DKI, Jawa Timur dan Sumatera Selatan. Jangan keburu khawatir! Bisa jadi mereka bukan para siswa.
Selain dari internet mereka mendapat file dari temannya yang ditransfer via bluetooth. Penyebaran lewat bluetooth ini biasanya sangat cepat terutama dari suatu kelompok komunitas satu ke komunitas yang lain. Dan yang jarang terjadi sih, file diperoleh melalui transaksi di beberapa counter nakal yang sengaja menyediakan.
Alasan lain adalah sering kali ditemui siswa asyik ber-sms di saat pelajaran sedang berlangsung. Isinya bisa contekan jawaban ulangan, rayuan terhadap orang yang memikat hatinya, atau sekedar bercanda jarak jauh dengan temannya. Semua tentunya sepakat jika hal ini dinyatakan mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Namun hendaknya jangan serta merta digeneralisasi lalu menyatakan HP haram masuk sekolah. Tentu ada jalan tengah untuk mempertemukan dan memberi solusi antara kekhawatiran pihak sekolah dengan kesulitan orang tua dan siswa dalm situasi tertentu seperti dalam kasus di atas.


Locker khusus HP

Handphone masuk kelas memang mengganggu proses pembelajaran. Tapi boleh dong jika digunakan usai pelajaran. Jadi redaksional larangannya bukan DILARANG MEMBAWA HANDPHONE KE SEKOLAH, tetapi DILARANG MENGAKTIFKAN HANDPHONE DI SEKOLAH! Dengan demikian siswa yang "terpaksa" membawa HP harus segera mematikan telepon genggamnya saat tiba di sekolah, lalu menitipkannya ke loker khusus HP yang berada di bawah pengawasan langsung guru atau petugas yang ditunjuk. Lebih afdhol jika sebelumnya ada perjanjian bahwa pihak sekolah berhak memeriksa seluruh file yang tersimpan dalam HP yang dititipkan.Konsekuensinya jika ada siswa yang ketahuan membawa HP masuk kelas, maka HP boleh disita dan tidak dikembalikan oleh sekolah. Ini namanya baru mengajari siswa berkomitmen! Diberi kelonggaran jangan minta yang longgar lagi. Nanti jadi kedodoran!

Pembatasan Kriteria

Lebih arif jika ada kriteria yang jelas handphone yang boleh dan dilarang dibawa ke sekolah. Handphone Qwerty yang dilengkapi fasilitas external memory dan multimedia memang menjamur. Namun HP candybar masih bisa didapat di banyak tempat. Jika beberapa pihak mengkhawatirkan penyebaran pornografi melalui handphone, tentu orang tua bisa mengerti andaikata harus sedikit bersusah payah membeli handphone yang cuma bisa untuk menelepon dan sms, tanpa dilengkapi bluetooth, kamera, dan external memory. Di sini kebijaksanaan orang tua juga dituntut. Jika yang dibutuhkan saran telekomunikasi, berikan sarana telekomunikasi. Ini memang kebutuhan di zaman ini. Jika yang diminta adalah alat multimedia, maka perlu dipertimbangkan apakah ini benar-benar kebutuhan atau sekedar "keinginan" anak.

Bagaimana dengan laptop? Bukankah kemampuan kerja dan daya simpannya jauh melampau handphone? Bisa saja kan para siswa memanfaatkannya untuk mengakses dan menyimpan hal-hal yang berbau pornografi? Akankah ada larangan membawa laptop ke sekolah? Kembali kearifan beberapa pihak sangat diperlukan untuk memutuskan hal ini. Kita hidup di era teknologi digital, berapapun usia kita sekarang. Ini adalah kenyataan. Kekhawatiran kita akan efek negatif kehadiran teknologi hendaknya tidak menjadikan kita seorang paranoid teknologi. Cara terbaik mengatasi "ketakutan" akan teknologi adalah dengan mempelajari dan menguasainya.


Di lain kesempatan kita akan coba membahas cara memonitor kegiatan anak melalui handphone dan laptop atau komputer sehingga kita bisa tahu nomor yang telah melakukan kontak suara maupun pesan, posisi saat ini, situs yang diakses maupun video yang pernah disaksikan. Teknologi selalu jujur. Mental dan ketidaktahuan kitalah yang membuatnya tampak menakutkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manis Tak Selalu Berujung Manis