Catatan Dari Lereng Wilis
Anak ini, entah siapa namanya, aku jumpai saat pulang
sekolah dengan berjalan kaki seorang diri. Pada salah satu sisi tas warna biru
yang dia bawa terselip sebuah botol bekas air mineral yang isinya tinggal
seperempat bagian. Dengan kaki yang nampak masih rapuh dia menapaki tanjakan
Gajah, sebuah tanjakan yang yang cukup tinggi dan sering memakan korban
pengendara yang kurang berhati-hati atau kendaraannya tak mampu meniti tanjakan
itu. Sebuah topi merah-putih sedikit melindungi wajahnya dari terik matahari.
Hampir tiga bulan lamanya aku mendapat mandat untuk memperbaiki jalan yang
terbentang dari Sedengkeng, Segulung sampai Koplakan,Tileng sepanjang 11,5 km.
Ruas jalan yang menghubungkan 3 desa di puncak Wilis Selatan, areal Kabupaten
Madiun yang berbatasan dengan Ponorogo. Sulitnya medan menyebabkan suplay bahan
sering terhambat. Hal ini sempat menyurutkan semangatku untuk menyelesaikan
tugas ini. Terlebih vibro-tandem yang kuoperasikan tidak dalam kondisi fit.
Namun semangatku tumbuh kembali setelah tercambuk oleh
semangat seorang gadis kecil, berumur delapan tahun, yang selalu tersenyum
menaklukkan kesulitan yang menyapanya. Setiap hari kakinya menapaki jalanan
sejauh 2 km menuju sekolah dasar tempatnya menimba ilmu. Bekal yang dia bawa hanyalah
air putih setengah liter, tanpa uang saku. Seorang diri dia menyusuri jalan
yang membelah perkebunan durian. Salah satu sisi jalan itu adalah tebing curam
yang rawan longsor. Sementara sisi lainnya merupakan jurang dalam yang berakhir
pada sebuah dasar sungai yang dipenuhi bongkahan batu besar.
Ibunya tak bisa mengantar atau menjemputnya karena harus
bekerja serabutan untuk membantu menambah pendapatan keluarga. Bapaknya yang
seorang buruh tani tak berpenghasilan
tetap. Tampaknya dia sangat mengerti keadaan ini, sehingga tak ingin
terlalu merepotkan orang tuanya. Sejak kelas satu SD dia selalu berangkat dan
pulang sekolah berjalan kaki seorang diri. Kemandiriannya semakin tampak dengan
keengganannya menumpang kendaraan satu – dua yang lewat di jalan yang
dilaluinya. Namun terkadang ada juga pengendara motor yang iba dan berhenti
memberinya tumpangan.
Hatiku semakin tersayat takkala mendengar jawabannya saat
kutanya bagaimana jika musim penghujan tiba. Dia tetap berjalan kaki seperti
biasa, dan tetap tak dijemput orang tuanya, bahkan sering tanpa membawa payung. Sementara 1,5 km dari 2 km jalan
yang disusurinya merupakan perkebunan yang
hanya ada empat rumah yang jaraknya saling berjauhan. Tiga buah tanjakan
dan turunan yang licin dan curam harus dia taklukkan dengan kaki mungilnya .
Dia tetap semangat meskipun tak pernah tahu apakah lima tahun mendatang dapat
melanjutkan ke SMP yang jauhnya 7 km dari rumahnya.
Dengan diam dan tersenyum dia telah mengajariku. Bahwa
seberat apapun beban permasalahan yang dihadapi akan jauh terasa ringan jika
kita tetap tersenyum dan tak mengeluh. Bahwa jika ingin berubah kita harus
segera melangkah meskipun tak tahu sampai sejauh mana langkah ini akan
terhenti. Hijrah fisik tanpa disertai hijrah jiwa tak akan memberi makna. Dia
bisa saja bersabar menerima keadaan dengan diam di rumah, tak bersekolah. Tapi
dia lebih memilih bersabar dengan menempuh jalan berliku, mendaki dan menurun
untuk ilmu yang dia yakini kelak dapat merubah keadaan.
Dengan diam seolah dia berkata tak perlu menyalahkan
siapapun untuk keadaan yang telah terjadi. Tak perlu terlalu menyandarkan
harapan kepada orang lain. Segalanya telah terukur .
Tak sempat kuucapkan terima kasih kepadanya. Hanya sebuah do’a
yang mampu aku panjatkan :
“Ya Allah, Ya Rahman. Semoga setiap ayunan langkah kakinya
Engkau catat sebagai dzikirnya kepadaMu. Semoga setiap tetes keringat dan air
hujan yang membasahinya menjadi malaikat yang mengamini setiap do’anya
kepadaMu. Semoga Engkau kokohkan dinding-dinding tebing di sepanjang jalan yang
dilaluinya. Semoga Engkau limpahkan rizkiMu kepada orang tuanya agar mampu mengantarnya
menuntut ilmu hingga tempat yang jauh.
Ya Allah , semoga senantiasa Engkau anugerahkan kesehatan
pada dirinya. Amin."


Komentar
Posting Komentar